Tampilkan postingan dengan label kenapa kita di uji oleh allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kenapa kita di uji oleh allah. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2016

Kisah Nyata - Jawaban Pak Kyai Setelah Dirinya Kecopetan di Terminal

Alm Kyai Arwani
 Kyai Arwani adalah Kyai yang terkenal dengan hafalan Qur'annya. Pesantrennya yang diasuhnya "Yanbu'ul Qur'an" di Kudus menjadi salah satu kiblat para hafidz-hafidzoh di Jawa Tengah.

Suatu hari ketika bepergian, di saat beliau turun dari bus di terminal Terboyo Semarang, Kyai Arwani kecopetan. Entah sudah tahu atau memang pura-pura tidak tahu, Kyai Arwani tidak perduli jika baru saja kecopetan. Santri yang mendampingi dan tahu kejadian kecopetan terkejut, seketika itu pula mereka pada mengejar pencopetnya.

"Copet ...! Copet ...!" teriaknya sambil mengejar. Suasana menjadi gaduh, serabutan, karena orang lain ikutan mengejar pencopet.

Tapi sayang, pencopetnya terlalu lincah berlari dan tampaknya cukup menguasai medan hingga gagal ditangkap. Para santri pada kecewa dan marah-marah pada pencopet yang sudah raib itu. Berani-beraninya si copet mengganggu sang Kyai, begitu kira-kira pikir mereka.

Baca Juga :  Misteri Manfaat Gerakan Shalat Untuk Kesehatan Yang Selama Ini Di Rahasiakan


Copetnya pun keterlaluan, tidak lihat-lihat siapa yang akan dijadikan korban. Dan tentu saja, pencopet tidak peduli hal itu. Mungkin yang diingat oleh pencopet adalah uang, uang dan uang.

Bagi copet, siapa saja yang pegang uang, uang tetap bernilai uang. Yang juga tak kalah mengherankan adalah Kyai Arwani, tidak perduli dengan apa yang barusan terjadi. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Tenang-tenang saja, sibuk dengan dzikirnya. Sampai-sampai santrinya harus memberi tahu bahwa Kyai baru saja kehilangan dompet disikat pencopet.

"Kyai, Njenengan baru saja kecopetan!" kata santrinya memberitahu.

"Oh, ya?" jawab Kyai santai.

"Benar, Kyai. Tapi kami gagal menangkapnya! Keterlaluan betul pencopet itu!"

"Alhamdulillah .... Sudahlah kalian tidak perlu ribut-ribut. Saya bersyukur, yang dicopet itu saya!"

"Apa maksudnya Kyai?"

"Syukur .... syukur ..... Alhamdulillah. Karena saya yang dicopet, bukan saya yang jadi pencopetnya!"

Tentu saja para santri pada bengong mendengar jawaban Kyai.

"Kok bisa begitu Kyai?"

"Sekarang apa jawab kalian jika aku tanya, lebih baik mana, menjadi orang yang dicopet atau menjadi tukang copetnya?" tanya beliau kemudian.

Jawaban Kyai sungguh tak terbantahkan, masuk akal. Nuansa zuhud dan kesufian mengiringi ucapan-ucapan Kyai. Para santri yang menyertai beliau pada geleng-geleng kepala tanda paham dan takjub.

Dan para santripun mendapat pelajaran berharga yang belum pernah mereka jumpai dalam teori. Rupanya, dalam musibahpun bisa timbul rasa syukur, seperti yang sudah dicontohkan Kyai Arwani.

--0o0o0--

Cerita yang mampu membuat kita tersenyum dan juga mendapat banyak hikmah di dalamnya. Subhanallaah ... Betapa bersyukur itu tidak hanya ketika kita mendapatkan sesuatu. Namun, seperti yang telah dicontohkan Kyai Arwani di atas bahwa bersyukur pun dapat dilakukan ketika kita kehilangan sesuatu.

Sumber : Google.co.id

Selasa, 08 September 2015

Ini Adalah Jawaban Allah, Mengapa Ini Semua Tidak Sesuai Seperti Yang Kita Inginkan?

Seperti judul tulisan yang tertera di atas, mengapa aku tak mendapatkan apa yang aku inginkan? Maka seperti itulah gambaran pertanyaan kebanyakan orang dalam menjalani hidupnya saat ini. Tidak heran apabila saat ini banyak orang yang merasa selalu kekurangan dalam hidupnya, merasa hidup sendiri dan tak ada yang menemani. Mereka merasa apapun yang telah mereka terima tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Jika pikiran semacam itu merasuk untuk menjadi bahan pemikiran dan kemudian bisa melecutkan diri menjadi lebih baik, tentu pikiran-pikiran itu menjadi bermanfaat, akan tetapi apabila pikiran-pikiran semacam itu manjadi sebuah penyesalan, kemarahan, bahkan keputusasaan, maka sudah barang tentu semua itu hanya akan menjadi penyakit dalam diri kita.

Belum menjadi seorang muslim sejati apabila dalam pribadinya tumbuh bibit penyakit hati. Penyakit hati bisa tumbuh dari berbagai macam bibit, salah satu bibit yang berbahaya adalah perasaan kurang yakin dan berburuk sangka kepada Allah Swt. Dengan penyakit ini, manusia akan selalu merasa bahwa Allah Swt. tidak pernah sayang kepadanya. Allah Swt.tidak mau memberi hamba-Nya nikmat dan Allah Swt. itu jahat. Ketika penyakit ini merasuk dalam diri seseorang, maka nafsu jahat dalam diri manusia sedang berpesta pora menyambut kedatangan teman baru mereka, dan ia adalah keserakahan.

Baca Juga : Inilah Tujuan Allah Menguji Manusia

Sifat serakah seringkali menjalar dalam diri tanpa bisa dideteksi dengan alat apapun selain kesucian hati. Dengan sifat serakah manusia akan tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Memang boleh apabila kita merasa tidak puas dengan apa yang kita dapatkan, terutama dalam hal ilmu dan ibadah, tetapi tidak pada nikmat Allah Swt. kita tidak boleh menghujat Allah Swt. dengan mengatakan bahwa Allah Swt. tidak pernah memberi apa yang kita inginkan, karena dengan begitu kita sebenarnya telah digiring nafsu jahat dalam diri untuk menjadi seseorang yang kufur nikmat, naudzubillah.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ (البقرة: 216)

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)

Tafsir Ayat : 216

Ayat ini mengandung hukum wajibnya berjihad di jalan Allah setelah sebelumnya kaum muslimin diperintahkan untuk meninggalkannya, karena mereka masih lemah dan tidak mampu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berhijrah ke Madinah dan jumlah kaum muslimin bertambah banyak dan kuat, Allah memerintahkan mereka untuk berperang, dan Allah mengabarkan bahwasanya peperangan itu sangatlah dibenci oleh jiwa karena mengandung keletihan, kesusahan, menghadapi hal-hal yang menakutkan dan membawa kepada kematian. Tapi sekalipun demikian berjihad itu merupakan kebaikan yang murni, karena memiliki ganjaran yang besar dan menghindarkan dari siksaan yang pedih, pertolongan atas musuh dan kemenangan dengan ghanimah dan sebagainya, yang memang menimbulkan rasa tak suka.

وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ "Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu". Hal itu seperti tidak ikut pergi berjihad demi menikmati istirahat, itu adalah suatu keburukan, karena akan mengakibatkan kehinaan, penguasaan musuh terhadap Islam dan pengikutnya, terjadinya kerendahan dan hina dina, hilangnya kesempatan mendapat pahala yang besar dan (sebaliknya) akan memperoleh hukuman.

Ayat ini adalah umum lagi luas, bahwa perbuatan-perbuatan baik yang dibenci oleh jiwa manusia karena ada kesulitan padanya itu adalah baik tanpa diragukan lagi, dan bahwa perbuatan-perbuatan buruk yang disenangi oleh jiwa manusia karena apa yang diperkirakan olehnya bahwa padanya ada keenakan dan kenikmatan ternyata buruk tanpa diragukan lagi.

Perkara dunia tidaklah bersifat umum, akan tetapi kebanyakan orang bahwa apabila ia senang terhadap suatu perkara, lalu Allah memberikan baginya sebab-sebab yang membuatnya berpaling darinya bahwa hal itu adalah suatu yang baik baginya, maka yang paling tepat baginya dalam hal itu adalah ia bersyukur kepada Allah, dan meyakini kebaikan itu ada pada apa yang terjadi, karena ia mengetahui bahwa Allah Ta’ala lebih sayang kepada hambaNya daripada dirinya sendiri, lebih kuasa memberikan kemaslahatan buat hambaNya daripada dirinya sendiri, dan lebih mengetahui kemaslahatannya daripada dirinya sendiri, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ "Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui". Maka yang pantas bagi kalian adalah kalian sejalan dengan segala takdir-takdirNya, baik yang menyenangkan ataupun yang menyusahkan kalian.

Dan tatkala perintah berperang tidak dibatasi, pastilah akan mencakup bulan-bulan haram dan selainnya, Allah Ta’ala mengecualikan peperangan pada bulan-bulan haram seraya berfirman, (ayat berikutnya –pent.)

Hadits-Hadits yang Berkaitan dengan Ayat

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan beberapa hadits ketika menafsirkan ayat tersebut diantaranya:

مَنْ مَاتَ وَلمَ ْيَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِالْغَزْوِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيِّةً
"Barang siapa meninggal dunia sedang ia tidak pernah ikut berperang dan ia juga tidak pernah berniat untuk berperang, maka ia meninggal dunia dalam keadaan jahiliyah.” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada waktu Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah):

لاَ هِجْرَةَََ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَ نِيَّةٌٌٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا
“Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah (pembukaan kota Makkah), akan tetapi yang ada yaitu hijrah untuk jihad dan untuk niat baik. Bila kalian di minta untuk maju perang, maka majulah !” (Muttafaq ‘alaih)

Imam Az-Zuhri mengatakan, “Jihad itu wajib bagi setiap individu, baik yang dalam keadaan berperang maupun yang sedang duduk (tidak ikut berperang). Orang yang sedang duduk, apabila dimintai bantuan, maka ia harus memberikan bantuan, jika diminta untuk maju berperang, maka ia harus maju perang, dan jika tidak dibutuhkan, maka hendaknya ia tetap di tempat (tidak ikut).”

Pelajaran dari Ayat:

Ayat tersebut merupakan penetapan kewajiban jihad dari Allah Ta’ala bagi kaum muslimin. Agar mereka menghentikan kejahatan musuh dari wilayah islam. Dan juga agar supaya tidak tersisa di bumi Allah ini fitnah dan perbuatan syirik.

Ketidaktahuan seseorang terhadap akibat atau balasan sebuah perbuatan ataupun ketentuan Allah, menjadikannya menyenangi perbuatan yang dibenci atau diharamkan, dan menjadikannya membenci dan menjauhi perbuatan yang sebenarnya dicintai dan diridhai Allah, walaupun terkadang bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya.

Seluruh perintah Allah adalah baik, dan seluruh larangan-laranganNya adalah buruk. Maka dari itu wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakan seluruh perintahNya dan menjauhi seluruh larangan-laranganNya.

Sebenarnya, apabila kita mampu mengkaji lebih dalam tentang semua yang diberikan Allah Swt., maka kita akan bisa merasakan betapa rahman dan rahim Allah Swt. yang begitu melimpah. Allah Swt. selalu memberi apa yang terbaik di hadapan Allah bagi makhluk-Nya. Kebanyakan manusia selalu menilik apa yang diberikan Allah Swt. dengan kacamata nafsu mereka, bukan dari hikmah yang ada dibaliknya. Dengan jelas Allah telah menjelaskan dalam surat al Baqarah ayat 216 bahwa Allah Swt. selalu memberi yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, karena hanya Allah Swt. lah yang paling mengerti tentang apa-apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Bisa jadi kita membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kita, dan bisa jadi ketika kita menyukai sesuatu, padahal ternyata ia amat buruk bagi kita.
Sebuah analogi sederhana, adalah cerita tentang seorang anak bernama Ahmad dan ibunya yang sedang menyulam kain. Sang ibu duduk di atas kursi dan Ahmad duduk di lantai samping kursi ibunya. Ketika sang ibu menyulam, Ahmad bertanya, “ibu, kenapa ibu membuat untaian benang yang begitu rumit dan tidak teratur seperti itu?” sang ibu hanya tersenyum dan terus meyelesaikan sulamannya itu. Tak berapa lama hasil sulamannya pun jadi. Ibu mengangkat dan mendudukkan Ahmad ke pangkuannya. Kemudian sang ibu berkata, “apa yang kamu lihat sekarang Ahmad? ”, dan Ahmad menjawab, “wow, indah sekali sulaman ini bu”. Ahmad takjub ketika melihat pola dari atas yang begitu rapi membentuk gambar bunga, berbeda dengan apa yang ia lihat dari bawah, rumit dan tidak beraturan. Kemudian sang ibu menjelaskan kepada anaknya bahwa apa yang ia lihat adalah perumpamaan hidup kita. Jalan hidup seringkali terasa begitu rumit dan buruk bagi kita, tapi belum tentu di mata Allah Swt. Bisa jadi apa yang kita pandang sebagai sesuatu yang berat dan menyusahkan, ternyata begitu indah di hadapan Allah Swt.

Dari cerita tersebut kita seharusnya bisa lebih memahami bahwa Allah Swt. selalu lebih mengerti apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Semua yang kita terima, entah itu nikmat ataupun musibah hanya merupakan ujian dari Allah Swt. Dalam al Quran surat Al Ankabut ayat 2 Allah Swt. menyampaikan firman yang artinya,”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”. 

Sumber :
• Tafsir as-Sa’di, cet. Shahifa;
• Aisarut-Tafasir, syaikh al-Jaza’iri;
• dan Tafsir Ibnu Katsir, cet. Pustaka Imam Syafi’i.

Inilah Tujuan Allah Menguji Manusia


“Apa ya tujuan ku? Untuk apa sih aku hidup? Kok katanya Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang? Tapi kenapa tetep aja yang aku dapet kayaknya malah Tuhan benci aku? Mana nikmat yang Dia janjikan? Yang aku dapat hanya cobaan, ujian, dan itu saja yang sepertinya yang aku dapat dari-Nya.”

Hmm, pernah mikirin hal-hal di atas ga? Mungkin sebagian dari kita ada yang pernah, atau mungkin… sering? Jadi, apa yang kalian lakuin ketika “musibah”, “cobaan”, dan “ujian” menerpa kalian? Ngeluh? Mungkin, emm, misalnya … emosi? Atau, emm … sabar? Banyak pasti reaksi kalian ketika Trio Kutip itu menerpa. Lagian, emangnya kalian tau apa itu ujian a.k.a. musibah a.k.a. ujian?

Bentar...

Ok, jadi gini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Ujian berasal dari kata “Uji”, yang artinya “percobaan untuk mengetahui mutu sesuatu”, contohnya nih: Ujian Nasional, Ujian yang tingkatannya Nasional, percobaan untuk mengetahui, apakah sudah benar guru-guru kalian ngajarin kalian? Nah, kejawab di UN, siapa yang gurunya bener, siapa yang gurunya udah bener tapi kaliannya yang ga bener #nyimak mereka, ckck.

Baca Juga : Pengertian BIG-BANG dan BIG-BANG Menurut Al-Qur'an


Coba-an, cobaan. Dari kata “Coba” yang artinya “silakan; sudilah; tolong (untuk menghaluskan suruhan atau ajakan)”, tapi kalo di imbuhi –an, maka…artinya…adalah…“sesuatu yg dipakai untuk menguji (ketabahan, iman, dsb)” nah to the loh, nah loh. Seberapa kuat iman kalian? Di “coba” sama Allah.

Kalo musibah, hmm. Bentar. “kejadian (peristiwa) menyedihkan yg menimpa.” Tuh, menurut KBBI Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tapi apakah selalu sesuatu yang menyedihkan? Mungkin, bisa jadi. Coba kalo kita tilik dari bahasa arab.
Dalam bahasa arab bisa dimaknai dengan “Fitnah”, dan “Ibtilaa’”. Maksudnya apa?

Bentar....

“Fitnah”, berasal dari kata bahasa Arab fa-ta-na yang berarti imtihaan, ikhtiyaar, ibtilaa’, yang artinya ujian. Kalimat fatanu adz-dzahaab berarti membakar emas untuk memurnikannya, artinya emas perlu dibakar (diuji) dulu sampai ketahuan kualitasnya.

Sama juga dengan, kalau misalnya baju putih kotor, kita cuci, nah dikucek-kucek kan. Sama, dengan ujian terhadap manusia. Bedanya, kalau untuk manusia, lebih ke untuk mengetahui kualitasnya, dan juga sebagai penghapus dosa selama di dunia.

Oh ya?

Bentar! Kenapa kita diuji?

Allah pasti ngetes, benerkah kita beriman kepada-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui dari apa yang telah Ia uji, seberapa “Iman” mereka yang berkata “Aku beriman kepada Allah” sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ankabut 21: 2-3 yang artinya:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Tapi bener gak sih? Bener gak ujian tanda Allah mencintai kita? Ujian itu penghapus dosa?

Dalam hadist,

Dan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari No. 5641)
Masih mikir? Ok, dikasih analogi deh. Jadi gini.

Dalam permainan, tingkat kesusahan setiap level itu tergantung seberapa tinggi level itu kan? Misalnya nih, level 1 “Wah gampang banget.” Tapi makin naik levelnya, pasti makin susah. Dari Candy Crush Saga aja, makin naik level makin susah kan? Atau kalau kalian gamers, pemain RPG, tiap-tiap tempat pasti ada Quest, ya kan? Nah, quest itu kita ibaratkan sebagai ujian, dan liat reward dari quest itu, meuh, keren beudh pake dh kan?

Belum percaya? Kalau ujian itu baik? Ada bukti lagi nih.

Dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani)

Tapi, sebenernya, apa sih yang ngebedain ujian, sama azab?

Kalau diambil dari hadits-hadits tadi, maka dapat disimpulkan, bahwa Allah menguji hamba-Nya yang Ia cintai. Diantara yang termasuk ke dalam ujian yaitu:
1. Pelbagai kesulitan dan kepelikan

QS. Al-Baqarah 2: 155 yang artinya:
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar.

Disitu disebutin, bahwa banyaknya cobaan yang ada.
2. Keburukan juga Kebaikan

QS. Al-Anbiya 21: 35 yang artinya:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.

Disebutin tuh, salah dua dari ujian termasuknya kebaikan dan keburukan. :O
3. Ornamen dan Hiasan di Muka Bumi

Qs. Al-Kahf 18: 7 yang artinya:

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

Maksudnya, sesuatu-sesuatu yang ada di bumi ini juga menjadi sebagian dari ujian.

Trus untuk azab? Terjelaskan dalam banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an bahwasanya mereka yang Allah azab adalah orang-orang kafir, munafik, misalnya nih,

QS. Ali Imran 3: 177 yang artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih.

QS. At-Taubah 9: 68 yang artinya:

Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.

Kejawab gak tuh, bedanya azab sama ujian? Kejawab kan? Alhamdulillah :) eh? Masih ada pertanyaan?
Kalau gitu, cara menyikapi ujian, kita harus ngapain?

5 dan 6 Huruf.

S. A. B. A. R. Sabar dan, S. Y. U. K. U. R. Syukur.

Maksudnya?

Tunggu sebentar, biarkan Allah menjawab via Al-Qur’an dan Rasul-Nya via As-Sunnah :)

Suhaib mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)"

Orang yang sabar gimana? Kejawab juga di QS. Al-Baqarah 2: 155-157 yang artinya:

““Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. Al-Baqarah: 155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al-Baqarah: 156) Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 157)

Jangan juga putus asa, ketika Allah menguji kita dengan sesuatu yang tidak bisa kita pikul, atau misalnya kesendirian, ingat firman Allah, pada QS. Al-Baqarah 2: 286 yang sebagian artinya ialah,

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa):”Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

Juga firman Allah yang dikutip dari arti QS. At-Taubah 9: 40 yang artinya :

“”Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (9: 40)””

Ada juga hadits, jadi Rasulullah pun meminta perlindungan dari kelemahan, kemalasan, pengecut, kekikiran dan kepikunan, siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian.
Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam selalu mengucapkan:  اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, pengecut, kekikiran dan kepikunan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari no 6367)

Dan masih banyak lagi...

Jadi, liat? Ujian itu, bukan azab, bukan berarti Allah benci kita, bukan. Kalau kita memang masih beriman, Allah akan menguji keimanan kita, lewat ujian. Jangan jadi orang yang menghindar dari kesalahan, itu bukanlah sabar, melainkan pengecut. Jangan juga menghindar dari sesuatu yang kita tidak mampu laksanakan, bukankah Allah tidak akan menguji hamba-Nya dengan sesuatu yang hamba-Nya tidak dapat pikul?

Sumber : Google