Senin, 07 September 2015

Pengertian BIG-BANG dan BIG-BANG Menurut Al-Qur'an

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS Al-Anbiya [21]:30) Menurut Harun Yahya, kata “ratq” yang diterjemahkan sebagai “suatu yang padu” digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan.

Ungkapan “Kami pisahkan antara keduanya” adalah terjemahan kata Arab “fataqa”, dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari “ratq”. Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini. Peristiwa Big Bang, kata Harun Yahya, mengungkapkan bahwa Allah telah menciptakan jagat raya dari ketiadaan. Big Bang adalah teori yang telah dibuktikan secara ilmiah.

TEORI KEJADIAN ALAM SEMESTA
Para  ahli  astronomi  telah  lama  berusaha  merumuskan  berbagai  teori  yang  dapat menjelaskan  tentang  kejadian  alam  semesta.  Salah  satu  teorinya  disebut  teori  dentuman dahsyat  (big  bang).  Teori  ini  pertama  kali  dikemukakan  oleh  kosmolog  Abbe  Lemaitre  pada tahun 1920-an. Menurutnya alam semesta ini bermula dari gumpalan super-atom raksasa yang isinya tidak bisa kita bayangkan tetapi kira-kira seperti bola api raksasa yang suhunya antara 10 milyar sampai 1 trilyun derajat celcius (air mendidih suhunya hanya 100 oC).

Gumpalan super-atom tersebut meledak sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Hasil sisa dentuman dahsyat tersebut menyebar  menjadi  debu  dan  awan  hidrogen.  Setelah  berumur  ratusan  juta  tahun,  debu  dan  awan hidrogen tersebut membentuk bintang-bintang dalam ukuran yang berbeda-beda. 
Seiring dengan terbentunya bintang-bintang, di antara bintang-bintang tersebut berpusat membentuk kelompoknya masing-masing yang kemudian kita sebut galaksi.
Teori big bang merupakan teori mutakhir tentang penciptaan alam semesta. Sebelumnya telah berlaku   berbagai   teori   kejadian   alam   semesta   dengan   sejumlah   pendukung   dan penentangnya.  Seperti  Teori  Keadaan  Tetap  (Steady  State  Theory)  yang  diusulkan  pada  tahun 1948  oleh  H.  Bondi,  T.  Gold,  dan  F.  Hoyle  dari  Universitas  Cambridge  (Tjasyono,  2006;  51). Menurut  teori  ini,  alam  semesta  tidak  ada  awalnya  dan  tidak  akan  berakhir.  Dalam  teori keadaan tetap tidak ada asumsi bola api kosmik yang besar dan pernah meledak. 

Alam semesta akan  datang  silih  berganti  berbentuk  atom-atom  hidrogen  dalam  ruang  angkasa,  membentuk galaksi baru dan menggantikan galaksi lama yang bergerak menjauhi kita dalam ekspansinya. Teori  lainnya  yang  cukup  akomodatif  dari  kedua  teori  di  atas  adalah  teori  osilasi.

Keyakinan tentang kejadian alam semesta sama dengan Teori Keadaan Tetap yaitu bahwa alam semesta  tidak  awal  dan  tidak  akan  berakhir.  Tetapi  model  osilasi  mengakui  adanya  dentuman besar  dan  nanti  pada  suatu  saat  gravitasi  menyedot  kembali  efek  ekspansi  ini  sehingga  alam semesta  akan  mengempis  (collapse)  yang  pada  akhirnya  akan  menggumpal  kembali  dalam kepadatan  yang  tinggi  dengan  temperatur  yang  tinggi  dan  akan  terjadi  dentuman  besar
kembali. 


Setelah big-bang kedua kali terjadi, dimulai kembali ekspansi kedua dan suatu saat akan mengempis kembali dan meledak untuk ketiga kalinya dan seterusnya. Di  tempat  lain  para  ilmuwan  sibuk  mengusulkan  teori  lain  tentang  terciptanya  tata surya. Bagi para ilmuwan, formasi tata surya sangat menarik karena keteraturan planet-planet mengelilingi matahari. Bersamaan dengan itu, satelit planet juga mengitari planet induknya. Adalah  Izaac  Newton  (1642-1727)  yang  memberi  dasar  teori  mengenai  asal  mula  Tata Surya.  Ia  menyusun  Hukum  Gerak  Newton  atau  Hukum  Gravitasi  yang  membuktikan  bahwa gaya antara dua benda sebanding dengan massa masing-masing objek dan berbanding terbalik dengan  kuadrat  jarak  antara  kedua  benda.  Teori  Newton  menjadi  dasar  bagi  berbagai  teori pembentukan   Tata   Surya   yang   lahir   kemudian,   sampai   dengan   tahun   1960   termasuk Fase ledakan (big bang) Fase penyusutan
1.7: Teori Osilasi didalamnya teori monistik dan teori dualistik. Teori monistik menyatakan bahwa matahari danplanet berasal dari materi yang sama. Sedangkan teori dualistik menyatakan matahari dan bumi berasal dari sumber materi yang berbeda dan terbetuk pada waktu yang berbeda.

Tahun 1745, George Comte de Buffon (1701-1788) dari Perancis mempostulatkan teori
dualistik  dan katastrofiyang  menyatakan  bahwa  tabrakan  komet  dengan  permukaan  mataharimenyebabkan  materi  matahari terlontar  dan  membentuk  planet  pada  jarak  yang  berbeda. Kelemahan   dari   teori   Buffon   tidak   bisa   menjelaskan   asal   datangnya   komet.   Ia   hanya mengasumsikan bahwa komet jauh lebih masif dari kenyataannya.

Filsuf  Perancis,  Rene  Descartes  (1596-1650)  mempercayai  bahwa  ruang  angkasa  terisi oleh fluida alam  semesta  dan  planet-planet  terbentuk  dalam  pusaran  air.  Teori  ini  tidak didukung  oleh  dasar  ilmiah  yang  kuat  sehingga  banyak  yang  menolaknya.  Namun  demikian,nampaknya menjadi inspirasi bagi Immanuel Kant (1724-1804) bahwa ada kemungkinan bahwa alam semesta itu berasal dari sesuatu “lembut” dan lebih lebit dari fluida yaitu adanya awan gas yang berkontraksi dibawah pengaruh gravitasi sehingga awan tersebut menjadi pipih.

Gagasan Kant didasarkan dari Teori Pusaran Descartes yang merubah asumsi dari fluida menjadi gas.
Setelah adanya teleskop, William Herschel (1738-1822) mengamati adanya nebula yang awalnya dianggap  sebagai  kumpulan  gas  yang  gagal  menjadi  bintang.  Tahun  1791,  ia  melihat bintang  tunggal  yang  dikelilingi  oleh  hallo  yang  terang.  Asumsi  inilah  yang  kemudian berkembang  dan  menaik  kesimpulan  sementara  bahwa  bintang  itu  terbentuk  dari  nebula  dan hallo merupakan sisa dari nebula.

Teori nabula semakin mantap setelah Pierre Laplace (1749-1827) menyatakan awan gas dan  debu  yang  berputar  secara  perlahan  akan  menjadi  padu  akibat  gravitasi.  Pada  saat  padu,momentum   sudut   dipertahankan   melalui   putaran   yang dipercepat   sehingga   terjadilah
pemipihan. Selama dalam kontraksi, materi di pusat pusaran menjadi matahri dan materi yangterlepas  dan  memisahkan  diri  dari  piring  pusaran  membentuk  sejumlah  cincin.  Material  di
sekitar cincin juga membentuk pusaran yang lebih kecil dan terciptalah planet-planet.

Teori  Laplace  ditentang  oleh  Clerk  Maxwell  (1831-1879).  Menurut  Maxwell  teori cincin  hanya  bisa  stabil  jika  terdiri  dari partikel-partikel  padat.  Jika  bahannya  dari  gas  sepertipendapat  Laplace  maka  tidak  akan  terbentuk  planet.  Menurut  Maxwell  cincin  tidak bisa berkondensasi menjadi planet karena gaya inersianya akan memisahkan bagian dalam dan luar cincin.

Seandainya  proses  pemisahan  bisa  terlewati,  massa  cincin  masih  jauh  lebih  masif dibanding massa planet yang terbentuk. Thomas C. Chamberlin (1843-1928) ahli geologi dan Forest R. Moulton (1872–1952) seorang  ahli  astronomi  mengajukan  teori  lain  yaitu  Teori  Planetesimal.

Menurut  teori  ini, matahari  telah  ada  sebagai  salah  satu  dari  bintang-bintang  yang  banyak.  Pada  suatu  masa, entah  kapan,  ada  sebuah  bintang  berpapasan  pada  jarak  yang  tidak  jauh.  Akibatnya,  terjadilah peristiwa  pasang  naik  pada  permukaan  matahari.  Sebagian  dari  masa  matahari  itu  tertarik  ke arah bintang lewat. Material yang tertarik ada yang kembali ke matahari dan sebagian lainnya terlepas dan menjadi planet-planet.

Teori lain yang mirip dengan teori Chamberlin dan Moulton adalah teori pasang surut yang  dikemukakan  oleh  Sir  James  Jeans  (1877–1946)  dan  Harold  Jeffreys  (1891)  yang keduanya  berkebangsaan  Inggris.  Peristiwa  pasang  surutnya digambarkan  oleh  Jeans  dan Jeffreys adalah seperti cerutu. Artinya ketika bintang lewat mendekati matahari, pada waktu itu masa  matahari  tertarik  dengan  bentuk  menjulur  keluar  seperti  cerutu.

Setelah  jauh,  cerutu tersebut menetes dan tetesannya membentuk planet-planet. Teori   lainnya   adalah   dari   Carl   von   Weizsaeker   seorang   ahli   astronomi   Jerman. Teorinya dikenal dengan nama Teori Awan Debu (The Dust-Cloud Theory).

Gagasannya adalah
bahwa  tata  surya  awalnya  terbentuk  dari  gumpalan  awan  gas  dan  debu.  Awan  gas  dan  debu mengalami proses pemampatan membentuk bola dan mulai berpilin. Lama-kelamaan gumpalan gas itu  memipih  menyerupai  bentuk  cakram  yaitu  bulat  dan  pipih  yang  dibagian  tengahnya tebal sedangkan di bagian tepiannya sangat tipis. Bagian tengah memilin lebih lambat daripada bagian  tepiannya.  Partikel  dibagian  tengah  saling  menekan  sehingga  menimbulkan  panas  dan menyala  yang  kemudian  menjadi  matahari.  Sedangkan  bagian  luar  berpusing  sangat  cepat sehingga banyak yang terlempar dan menjadi gumpalan gas dan kumpulan debu padat. Bagian yang kecil-kecil itu kemudian menjadi planet-planet.

Sebagian  ahli  juga  percaya  bahwa  ketika  matahari  mulai  memijar,  angin  matahari berhembus   sangat   kencang   sehingga   menerpa   gumpalan-gumpalan   debu   calon   planet. Merkurius,  Venus,  Bumi,  dan  Mars  terkena  dampak  langsung  sehingga  debu  calon  planetsebagian  terhempas  dan  “telanjanglah”  planet-planet  tersebut.  Sementara  Jupiter,  Saturnus, Uranus, dan Neptunus masih tetap seperti planet “debu” sehingga bentuknya masih berukuranraksasa.  Dengan  landasan  pada  asumsi  dan  teori  ini,  maka  sangat  aneh  adanya  planet  pluto yang  berwujud  terestrial  (padat).  Pertanyaan  inilah  yang  belum  dapat  dijawab  dan  untuk sementara “ditunda” statusnya sebagai planet. Adapun bulan atau satelit padat di sekitar planet-planet debu berukuran besar itu karena lebih dulu memadat yang kemudian bergerak mengitari
planet induknya.

Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, papar Harun Yahya, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20. Maha Benar Allah SWT dengan Segala FirmanNya.

Reff : Materi Bumi dan Alam Semesta | Teori Terjadinya Alam Semesta
Print PDF

Jadilah orang yang pertama untuk membagikan artikel ini, biar Allah dan malaikatnya membalas kebaikan Anda

Natas-Nitis-Netes

0 Comment to "Pengertian BIG-BANG dan BIG-BANG Menurut Al-Qur'an"

Posting Komentar

Untuk Para Sahabat Rahasia Al-Quran Yang Mau berdiskusi berkaitan tentang Artikel yang sudah Anda baca, Tuliskan Bahasan Anda dengan sopan dan baik seusai etika