Jumat, 25 September 2015

Iman Kepada Malaikat-Malaikat Allah Beserta Tugas-Tugas Para Malaikat

Ilustrasi


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sahabat Blog Rahasia & Mukjizat Al-Qur'an yang di rahmati Allah. Kali ini saya akan posting tentang rukun iman yang ke-2 yaitu iman kepada Malaikat. Sebagaimana telah di ketahui Malaikat-malaikat disini adalah makhluk yang Ghoib (tidak terlihat oleh kasap mata) hanya orang-orang yang dapat izin Allah SWT dapat melihatNYA.
  •  Pengertian Malaikat :
Malaikat dalam (bahasa Arab: ملاءكة malāʾikah; tunggal: ملاك atau مَلَكْ malāk) adalah makhluk yang memiliki kekuatan-kekuatan yang patuh pada ketentuan dan perintah Allah.
  • Wujud dan Penciptaan Malaikat :
Malaikat di ciptakan oleh Allah SWT dari cahaya atau Nur,
"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."Fatir 35:1

Kemudian dalam beberapa hadits dikatakan bahwa Jibril memiliki 600 sayap, Israfil memiliki 1200 sayap, dimana satu sayapnya menyamai 600 sayap Jibril dan yang terakhir dikatakan bahwa Hamalat al-'Arsy memiliki 2400 sayap dimana satu sayapnya menyamai 1200 sayap Israfil.

Wujud malaikat mustahil dapat dilihat dengan mata telanjang, karena mata manusia tercipta dari unsur dasar tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk tidak akan mampu melihat wujud dari malaikat yang asalnya terdiri dari cahaya, hanya Nabi Muhammad S.A.W yang mampu melihat wujud asli malaikat bahkan sampai dua kali.

Baca Juga : Umat Islam Harus Iman Kepada Allah, Apa Maksud & Tujuannya?


Mereka tidak bertambah tua ataupun bertambah muda, keadaan mereka sekarang sama persis ketika mereka diciptakan. Dalam ajaran Islam, ibadah manusia dan jin lebih disukai oleh Allah dibandingkan ibadah para malaikat, karena manusia dan jin bisa menentukan pilihannya sendiri berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki pilihan lain. Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Mereka dapat melintasi alam semesta secepat kilat atau bahkan lebih cepat lagi. Mereka tidak berjenis lelaki atau perempuan dan tidak berkeluarga.
  • Jumlah Malaikat-Malaikat Allah SWT :
Tak seorang pun mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya Allah saja yang mengetahui jumlahnya. Iman kepada malaikat maksudnya adalah meyakini adanya malaikat, walaupun kita tidak dapat melihat mereka, dan bahwa mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Mereka menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya, mereka tidak pernah berdosa. Tak seorang pun mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya Allah saja yang mengetahui jumlahnya.

Dalam kitab Aqidatul Awam, jumlah malaikat yang wajib di ketahui dan di hafalkan jumlahnya ada 10 :
  1. Malaikat Jibril Tugasnya adalah menyampaikan wahyu kepada Nabi dan Rasul
  2. Malaikat Mikail Tugasnya Memberi Rezeki kepada seluruh mahluk semesta alam mengatur peredaran matahari dan bulan
  3. Malaikat Isrofil Tugasnya Meniup Terompet sangkakala saat kiamat dan hari kebangkitan
  4. Malaikat Izrail Bertugas mencabut nyawa
  5. Malaikat Munkar Bertugas memeriksa segala bentuk amal (BAIK& BURUK) di alam kubur
  6. Malaikat Nakir Bertugas Sama seperti Malaikat Munkar
  7. Malaikat Rokib Tugasnya mencatat amal baik
  8. Malaikat Atid Tugasnya mencatat amal buruk
  9. Malaikat Malik Tugasnya Menjaga pintu neraka
  10. Malaikat Ridwan Tugasnya Menjaga Pintu Surga
Berikut 9 sifat malaikat yang diyakini oleh umat Islam adalah sebagai berikut:
  1. Selalu bertasbih siang dan malam tidak pernah berhenti.
  2. Suci dari sifat-sifat manusia dan jin, seperti hawa nafsu, lapar, sakit, makan, tidur, bercanda, berdebat, dan lainnya.
  3. Selalu takut dan taat kepada Allah.
  4. Tidak pernah maksiat dan selalu mengamalkan apa saja yang diperintahkan-Nya.
  5. Mempunyai sifat malu.
  6. Bisa terganggu dengan bau tidak sedap, anjing dan patung.
  7. Tidak makan dan minum.
  8. Mampu mengubah wujudnya.
  9. Memiliki kekuatan dan kecepatan cahaya.

Malaikat tidak pernah lelah dalam melaksanakan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka. Sebagai makhluk ghaib, wujud Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dirasakan oleh manusia, dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh panca indera, kecuali jika malaikat menampakkan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia. 

Tempat yang tidak disukai malaikat

Ada beberapa tempat dimana para malaikat tidak akan mendatangi tempat (rumah) tersebut dan ada pendapat lain yang mengatakan adanya pengecualian terhadap malaikat-malaikat tertentu yang tetap akan mengunjungi tempat-tempat tersebut. Pendapat ini telah disampaikan oleh Ibnu Wadhoh, Imam Al-Khothobi, dan yang lainnya. Tempat atau rumah yang tidak dimasuki oleh malaikat itu di antara lain adalah:
  1. Tempat yang di dalamnya terdapat anjing, (kecuali anjing untuk kepentingan penjagaan keamanan, pertanian dan berburu)
  2. Tempat yang terdapat patung (gambar)
  3. Tempat yang di dalamnya ada seseorang muslim yang mengacungkan dengan senjata terhadap saudaranya sesama muslim
  4. Tempat yang memiliki bau tidak sedap atau menyengat.
Kesemuanya itu berdasarkan dalil dari hadits shahih yang dicatat oleh para Imam, di antaranya adalah Ahmad, Bukhari, Tirmidzy, Muslim, dan lainnya. Tidak sedikit nash hadits yang menyatakan bahwa malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan pahala pemilik anjing akan susut atau berkurang.

Sekian tentang Iman kepada malaikat Allah, Penulis masih jauh dari kesempurnaan bila ada materi yang kurang bolehlah kita diskusikan bersama-sama.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Rabu, 23 September 2015

Umat Islam Harus Iman Kepada Allah, Apa Maksud & Tujuannya?

IMAN KEPADA ALLAH

Iman kepada Allah mencakup empat hal :
1. Beriman kepada keberadaan Allah .
Wujud Allah telah dibuktikan oleh fitrah, akal,syara‟, dan indera.

  • Bukti fitrah tentang wujud Allah adalah bahwa iman kepada sang Pencipta merupakan fitrah setiap makhluk, tanpa terlebih dahulu berpikir atau belajar. Dan kenyataan ini diakui oleh setiap orang yang memiliki fitrah yang benar yang di dalam hatinya tidak terdapat sesuatu yang memalingkannya dari fitrah ini. Rasulullah bersabda : “Semua bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, ibu bapaknyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H R. Al-Bukhari).
  • Bukti akal tentang wujud Allah adalah proses penciptaan semua makhluk, bahwa semua makhluk pasti ada yang menciptakan. Karena tidak mungkin makhluk menciptakan dirinya sendiri, dan tidak mungkin pula terjadi secara kebetulan. Tidak mungkin makhluk menciptakan dirinya sendiri, karena makhluk sebelum diciptakan tentulah ia tidak ada, dan sesuatu yang tidak ada, mustahil mampu menciptakan sesuatu. Semua makhluk tidak mungkin tercipta secara kebetulan, karena setiap yang diciptakan pasti membutuhkan pencipta. Adanya makhluk dengan aturan- aturan yang harmonis, tersusun rapi, dan adanya hubungan yang erat antara sebab dan musabab, antara alam semesta satu sama lainnya. Semua itu sama sekali menolak keberadaan seluruh makhluk secara kebetulan, karena sesuatu yang ada secara kebetulan, pada awalnya pasti tidak teratur, maka bagaimana mungkin kemudian dia menjadi teratur dan tetap bertahan teratur tanpa ada faktor lain. Kalau makhluk tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, dan tidak tercipta secara kebetulan, maka jelaslah, makhluk-makhluk itu ada yang menciptakan, yaitu Allah Rabb semesta alam.
  • Allah menyebutkan dalil Naqli yang qath‟I dalam surat Ath- thur : “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, ataukah mereka yangmenciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-thur: 35). 
Dari ayat di atas jelaslah bahwa makhluk tidak diciptakan tanpa pencipta, dan makhluk tidak menciptakan dirinya sendiri. Jadi jelaslah, yang menciptakan makhluk adalah Allah . Ketika Jubair bin Muth‟im mendengar Rasulullah yang tengah membaca surat Ath-thur dan sampai kepada ayat-ayat ini : “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan  Rabbmu atau merekalah yang berkuasa?”(QS. At-Thur: 35-37).

Ia, yang tatkala itu masih musyrik berkata, “
 jiwaku hampir saja melayang. Itulah permulaan menetapnya keimanan dalam hatiku
.” (HR.Bukhari). 
Dalam hal ini Kami ingin memberikan satu contoh. Kalau ada seseorang bercerita kepada anda tentang istana yang megah, yang dikelilingi kebun kebun, dialiri sungai-sungai, dialasi oleh hamparan permadani, dan dihiasi dengan berbagai jenis hiasan utama dan pelengkap, lalu orang itu mengatakan kepada anda bahwa istana dengan segala kesempurnaanya ini ada dengan sendirinya, atau tercipta secara kebetulan tanpa  pencipta, pasti anda tidak akan mempercayainya, dan menganggap perkataan itu adalah perkataan dusta dan dungu. Jika demikian halnya,

Baca Juga : Pengertian & Dasar Hukum Rukun Iman dalam Agama Islam


apakah mungkin alam semesta yang luas ini beserta isinya; bumi, langit dan galaxy galaxy dengan sistem yang sangat rapi dan elok tercipta dengan sendirinya atau tercipta secara kebetulan?

  • Dalil syara‟ tentang wujud Allah
Bahwa seluruh kitab  samawi (yang diturunkan dari langit) berbicara tentang hal ini. Seluruh hukum syara` yang mengandung kemaslahatan manusia yang dibawa kitab-kitab tersebut merupakan dalil bahwa kitabkitab itu datang dari  Rabb yang maha Bijaksana dan Mengetahui segala kemaslahatan makhluk-Nya. Berita-berita alam semesta yang dapat disaksikan oleh realitas akan kebenarannya yang dijelaskan di dalam kitab-kitab itu juga merupakan dalil atau bukti bahwa kitab-kitab itu datang dari  Rabb Yang Maha Kuasa untuk mewujudkan apa yang diberitakan-Nya. e. Dalil logika tentang wujud Allah dapat dibagi menjadi dua :

kita mendengar dan menyaksikan terkabulnya do‟a orang-orang yang berdo‟a serta pertolongan-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Allah.

Allah berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Nuh sebelum itu ketika diaberdo‟a, dan Kami memperkenankan do‟anya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.” ( QS. Al-Anbiya: 76).

“Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankannya bagimu…” (QS. Al-Anfal: 9). 

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ia berkata, 
“Pernah ada seorang badui datang pada hari jum‟at. Pada waktu itu Nabi sedang berkhutbah. Lelaki itu berkata “Hai Rasul Allah, harta benda kami telah binasa, seluruh warga ditimpa kelaparan. Oleh karena itu mohonkanlah kepada Allah untuk mengatasi kesulitan kami. “Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya dan berdo‟a. tiba-tiba awan datang bergulung-gulung bagaikan gunung-gunung. Sebelum Rasulullah turun dari mimbar, hujan terlebih dahulu turun dan membasahi jenggot beliau.Pada hari jum‟at yang kedua, orang badui atau orang lain berdiri dan berkata , „Hai Rasulullah, bangunan kami hancur dan harta bendapun tenggelam, berdoalah kepada Allah (agar kami selamat).‟ Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya, seraya berdo‟Allah, “Ya Rabbi, turunkanlah hujan di sekeliling negeri kami, dan jangan Engkau turunkan di negeri kami.” Akhirnya setiap tempat yang be liau tunjuk dengan tangannya menjadi terang (tanpa hujan).”
(HR. Bukhari). 
Hingga di masa kita sekarang ini, kita menyaksikan dan mendengar terkabulnya do`a orang-orang yang  benar-benar berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta`ala. 2)Tanda-tanda kebenaran para Nabi yang disebut mukjizat, yang dapat disaksikan atau didengar banyak orang merupakan bukti yang jelas tentang wujud yang mengutus para Nabi tesebut, yaitu Allah , karena hal-hal itu terjadi di luar kemampuan manusia. Allah melakukannya sebagai bukti penguat kebenaran, dan menolong para Rasul.

Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa `alaihissalam untuk memukul tongkatnya ke laut, Musa memukulnya, lalu laut terbelah menjadi dua belas jalur yang kering, sementara air di antara jalurjalur itu menjadi seperti gunung-gunung yang bergulung.

Allah berfirman:
“Lalu Kami mewahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.”(QS. Asy-Syuara‟: 63).

2. Beriman kepada Rububiyah Allah

Beriman kepada  Rububiyah Allah maksudnya: beriman sepenuhnya bahwa Dialah satu satunya Pengatur alam semesta, tiada sekutu dan tiada  penolong selain Dia. Rabb adalah Zat yang menciptakan, memiliki serta memerintah. Jadi, tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada pemilik selain Allah, dan tidak ada perintah selain perintah-Nya.

Allah berfirman:
“…Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanya hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS.Al-A‟raf: 54).

Allah  berfirman:
“…Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain  Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS. Fathir: 13). 
tidak ada makhluk yang mengingkari kerububiyahan Allah , kecuali orang yang congkak sedang ia tidak meyakini kebenaran ucapannya, seperti yang dilakukan Fir`aun ketika berkata kepada kaumnya: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”(QS. An-Naziat: 24) 

Dan juga ketika berkata:
“Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.”(QS.Al-Qashash: 38) 

Allah berfirman:
“Dan mereka mengingkarinya karena kezdaliman dan kesombongan mereka padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.” (QS. An-Naml: 14). 

Allah berfirman :
Nabi Musa berkata kepada Fir`aun, “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb  yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir`aun, seorang yang akan binasa.” (QS. Al-Isra‟:102)
Oleh karena itu, sebenarnya orang-orang musyrik mengakui rububiyah Allah, meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah (penghambaan).

Allah berfirman:

“Katakanlah,”Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? “Mereka akan menjawab,“kepunyan  Allah”. Katakanlah,“siapakah yang empunya langit yang tujuh dan yang empunya Arsy yang besar?” mereka menjawab, “kepunyaan Allah.”

3. Meyakini dengan keyakinan yang kuat yang tidak disisipi oleh sedikitpun keraguan akan Uluhiyyah Allah

Yaitu menyerahkan semua bentuk ibadah, baik ibadah hati, lisan, anggota badan maupun ibadah-ibadah lainnya hanya untuk Allah semata, tidak untuk yang selain-Nya meskipun hanya secuil. Banyak bukti di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut, diantaranya firman Allah :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS 162-163).

Keyakinan akan Uluhiyyah Allah Inilah yang menjadi jurang pemisah antara mukmin dengan kafir, sekaligus menjadi titik puncak perseteruan sengit antara Nabi Muhammad dengan kaum kafir jahiliyyah. Mereka enggan untuk menyerahkan ibadah hanya untuk Allah. Sehingga ketika mereka di ajak untuk menyerahkan semua ibadah kepada Allah, mereka menjawab:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan” (QS. Shaad: 5).

4. Meyakini dengan sungguh-sungguh akan nama-nama dan sifat-sifat Allah
Yaitu dengan menetapkan nama dan sifat Allah yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang layak dan sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah, tanpa menyamakannya dengan nama dan sifat makhluk yang penuh dengan keterbatasan dan kekurangan. Firman Allah :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat” (QS Asy Syura: 11).


Tujuan Manusia Beriman Kepada Allah SWT :

Tujuan Beriman Kepada Allah swt| Ada banyak fungsi dan manfaat beriman kepada Allah SWT baik itu dalam kehidupan sehari-hari maupun diakhirat nanti. Manfaat tersebut tak ternilai harganya, manfaat pertama adalah hati kita terasa nyaman dari masalah kita alami. Manfaat tersebut merupakan manfaat yang tidak dimiliki oleh orang beriman kepada Allah SWT. biarpun kita kaya tetapi hati dan pikiran kita tidak nyaman dan selalu merasa gelisah, Oleh karna itu mari kita dekatkan diri kita kepada Allah SWT dengan beriman dengan shalat lima waktu, mengaji, berbuat baik, menjauhkan diri dari perbuatan kotor, dan bertaubat karna dengan menjalankan itu semua diri kita akan mendapatkannya baik itu yang timbul maupun yang tidak timbul. Fungsi dan Manfaat Beriman Kepada Allah SWT yang dapat dilihat seperti yang ada dibawah ini..
Fungsi dan Manfaat Beriman Kepada Allah SWT

Fungsi dan manfaat beriman kepada Allah SWT, antara lain sebagai berikut..
1. Dapat menambah keyakinan kita kepada Allah SWT. yaitu menyakini keagungan dan kebesaran Allah SWT. yang telah menciptakan dunia seisinya serta mensyukuri nikmat-Nya.
2. Dapat menjadi acuan dalam kehidupan kita sehari-hari supaya taat menjalankan perintah Allah SWT. dan menjauhi semua larangan-Nya sehingga hati dan jiwa kita selalu ingat kepada Allah SWT.

Sebagai firman Allah SWT. berikut..
Fungsi dan Manfaat Beriman Kepada Allah swt.

(Yaitu) orang-orang beriman dan hati mereka aman tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah maka hati akan tenteram (Q.S. Ar-Ra'd :28).

3. Dapat menyelamatkan orang yang beriman, baik di dunia maupun di akhirat karena yang akan ditolong Allah.

Sebagai firman Allah SWT. berikut..
Fungsi dan Manfaat Beriman Kepada Allah swt.

Artinya :
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).(Q.S. Al-Mukmin :51).

Fungsi dan Manfaat Beriman Kepada Allah swt.

Sekian pembahasan tentang Umat Islam Harus Iman Kepada Allah swt. dan lihat juga berbagi macam artikel-artikel menarik di Artikelsiana.com. Semoga artikel tentang Fungsi dan Manfaat Beriman Kepada Allah swt dapat bermanfaat bagi kita semua, terkhusus pada pembaca budiman. Amin

Selasa, 22 September 2015

Pengertian & Dasar Hukum Rukun Iman dalam Agama Islam

Pengertian Rukun Iman

Segala sesuatu pasti memiliki rukun/pokok.Kata rukun di dalamrukun iman adalah landasan atau dasar. Artinye 6 hal dasar yang di sebutkan didalam rukun iman adalah landasan utama dalam memeluk agama islam.

Mengapa bisa demikian? Karena semua rukun iman ini saling berkaitan satu sama lainnya. Jika kita mempercayai Allah maka kita wajib juga mempercayai yang lainnya sesuai dengan isi rukun iman.
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-NYA dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, amaka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasulnya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Al-Qur'an Surat Annisa ayat 59

Iman menurut bahasa adalah percaya atau membenarkan (Tashdiq), Sedangkan istilah syar'i iman adalah keyakinan dalam hati, perkataan di lisan, amalan dengan anggota badan, bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurangnya bertindak maksiat"
Para ulama menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu iman bisa bertambah dan iman juga bisa berkurang.

Baca Juga : Kumpulan DO'A DO'A Saat Kita Mendapatkan Ujian Sakit Dari Allah


Dengan ini Iman dapat di simpulkan memiliki 5 karakter
  1. keyakinan hati
  2. perkataan lisan
  3. amal perbuatan
  4. bisa bertambah
  5. bisa berkurang
hal ini sesuai firman Allah :
"Agar bertambah keimanan mereka diatas keimanan mereke yang sudah ada" QS Al Fath 4

Salah satu imam besar pernah berkata:"Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah iman dengan sebab ketaatan dan berkurang dengan sebab kemaksiatan" Imam Safi'i

Sedangkan Menurut imam Ahmad"Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Iman bertambah dengan melakukan amal baik dan berkurang dengan sebab meninggalkan amal baik"

Berikut Rukun Iman :
  1. Iman Kepada Allah
  2. Iman Kepada Malaikat
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah
  4. Iman Kepada Rasul
  5. Iman Kepada Hari Akhir
  6. Iman Kepada Qodo dan Qodar

Dasar hukum


Diantara dasar hukum yang disebut di dalam Al-Qur'an,

“Katakanlah (wahai orang-orang yang beriman): “Kami beriman kepada Allah dan kitab yang diturunkan kepada kami, dan kitab yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan kitab yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kitab yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”
    —QS. Al-Baqarah: 136

 “...dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya.”
    — QS. Al-Anbiya`: 19-20

Hadits Jibril, tentang seseorang yang bertanya kepada nabi.

"“Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab, ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para rasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.” ...Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga nabi bertanya kepadaku: “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, ”Allah dan rasulNya lebih mengetahui,” Dia bersabda, ”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.”"
    — HR Muslim, no. 8[6]

Sabtu, 12 September 2015

Kumpulan DO'A DO'A Saat Kita Mendapatkan Ujian Sakit Dari Allah

Selain Ikhtiar dan doa menjadi kemestian dalam menjalani kehidupan ini, karena tiada daya dan upaya kita sebagai makhluk kecuali dengan pertolongan Allah SWT. Selain itu yang perlu kita ingat adalah Doa dan Ikhtiar adalah satu kesatuan yang terpadu.
Ketika sebagian kita berkata "Saya sudah berikhtiar, sekarang tinggal berdoa" secara tidak sadar kita telah, menomorkan duakan doa. Padahal, bila kita renungkan, yang harus kita jadikan pokok pangkal dari segala sesuatu adalah kemahakuasaan Allah. Semestinya doa dan ikhtiar menyatu, kemudian bertawakal, yaitu menyerahkan segalanya kepada Allah SWT.

"Dan apabila hamba-hamba-KU bertanya kepadamu tentang aku, jawablah bahwasanya AKU dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-KU. Maka hendaklah mereka beriman kepada-KU agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Q.S Al-Baqarah 2 : 186)
Dari ayat diatas dapat di ambil kesimpulan mari kita berdoa dengan penuh khusyuk dan tawaduk, berikut adalah kumpulan-kumpulan do'a mendapatkan ujian sakit :

Do'a mohon Sabar dan Ketenangan :

As-alulloohal 'azhiima robbil 'arsyil 'ashiimi an-yasyfiyanii syifaa-an laa yughoodiru saqomaa. Artinya "Aku memohon kepada Allah yang maha agung, tuhan yang mempunyai 'Arasy yang besar agar menyembuhkan aku, sembuh yang tidak meninggalkan sakit lagi." (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi)








Sumber : Buku Sakitku Ibadahku

Jumat, 11 September 2015

Inilah Laporan Jumlah Korban Meninggal Bencana Banjir di Makkah



Mekkah. Setidaknya 34 calon haji Indonesia menjadi korban musibah alat berat berupa crane jatuh di Masjidil Haram, ketika hujan lebat disertai angin kencang melanda kota Mekkah, Jumat Sore.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Indonesia Dr Fidiansjah di Mekkah, Jumat malam, menjelaskan sampai pukul 23.00 Waktu Arab Saudi (WAS) atau pukul 03.00 WIB, dua anggota jemaah perempuan meninggal pada peristiwa itu dan 32 jamaah lainnya mengalami luka ringan dan berat.

"Dua orang yang meninggal adalah Ibu Masnauli Hasibuan dari kloter 09 Medan (KNO 09) dan Iti Rasti Darmin dari kloter JKS 23," ujarnya.

Fidiansjah mengatakan calon haji yang meninggal akan segera diurus oleh Maktab terkait pemakaman sesuai dengan standar di Arab Saudi.

Sedangkan mereka yang luka-luka sebanyak tujuh orang (dua laki-laki dan lima perempuan) masih dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI).

"Kondisi semuanya dalam keadaan stabil dan dalam pemulihan. Insyaallah secepatnya kita dikembalikan ke kloter masing-masing," katanya.

Selain itu, ada delapan korban lain dievakuasi ke sektor 4 yang merupakan lokasi terdekat dengan Masjidil Haram.

Sisanya 17 calon haji ditangani Rumah Sakit Arab Saudi yang tersebar pada tiga rumah sakit yaitu Al-Nur sebanyak lima orang (empat laki-laki dan satu perempuan), Zahir 11 orang, dan King Abdullah satu orang.

"Kita doakan yang meninggal khusnul khotimah, dan yang luka-luka bisa wukuf dan menjadi haji yang mabrur," ujar Fidiansjah.

Yanuar yang menjadi dokter jaga dan membantu evakuasi para korban menamahkan bahwa sebagian besar calon haji mengalami luka kepala dan kaki akibat terkena reruntuhan bangunan akibat crane yang jatuh.

Baca Juga : Makkah Dilanda Bencana Banjir, Jemaah Haji Asal Indonesia Ketakutan

"Sedangkan yang meninggal, terkena cidera berat pada kepala," kata Yanuar.

Jumat sekitar pukul 17.10 WAS hujan lebat disertai angin kencang dan petir melanda Makkah selama hampir satu jam membuat banyak pohon tumbang dan kaca pecah pada sejumlah bangunan seperti hotel dan pertokoan.

Selain itu, jalan-jalan tergenang air dan sejumlah terowongan ditutup karena khawatir ada kendaraan terjebak banjir di terowongan.

Akibatnya, setelah hujan reda, kemacetan terutama akses menuju Masjidil Haram menjadi tidak bisa terhindarkan.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang menyambut Presiden Joko Widodo yang mendarat di Bandara International King Abdul Azis, Jeddah, langsung berkunjung ke Rumah Sakit Al-Nur dan Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI).

Setelah menjenguk sejumlah pasien di kedua tempat, Menag langsung menuju Madinah untuk melakukan koordinasi persiapan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci, sekaligus meninjau jemaah calon haji Indonesia yang masih berada di kota itu. (Risbiani Fardaniah)

Makkah Dilanda Bencana Banjir, Jemaah Haji Asal Indonesia Ketakutan



Hujan dan angin kencang melanda Kota Makkah, Arab Saudi, Kamis (11/9) mulai pukul 17.10 waktu setempat. Air yang turun tidak hanya dalam bentuk cair, tapi juga padat alias es.

Pantauan Republika.co.id, es yang bercampur dengan air ini seukuran kacang pilus. Angin yang bertiup sangat kencang, hingga menjatuhkan dua tiang bendera Arab Saudi dan Indonesia. Kilatan petir menghiasi langit dan gemuruh terdengar Kota Makkah.

Hujan turun berintensitas sangat tinggi alias deras. Dengan cepat, air menggenangi jalan-jalan di Kota Makkah. Kemacetan di jalan-jalan pun tidak terhindarkan. Suara klakson bercampur dengan hujan, gemuruh, dan kilat.

Air mengalir dengan cepat dari daerah tinggi ke daerah rendah. Air juga turut membawa sampah-sampah ke daerah yang lebih rendah. "Di daerah bawah itu pasti sudah banjir. Ini karena kita di atas saja," ujar Saifullah, mukimin di Makkah sejak 2002.

Baca Juga : Kamus Bahasa Arab Al Munawir Indonesia_Arab Terlengkap

Angin kencang membuat Kepala Seksi Katering Panitia Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Ahmad Abdullah Yunus langsung memerintahkan pintu kaca segera ditutup. "Langsung ditutup nanti kacanya pecah," kata dia.

Angin kencang dapat menyebabkan pintu terdorong dengan kencang. Itu menyebabkan pintu-pintu dari kaca dapat pecah. Kondisi itu yang terjadi di pemondokan nomor 627 di wilayah Syisyah, sekitar 4 kilometer dari Masjidil Haram.

Hujan juga mengguyur Masjidil Haram. Petugas PPIH Cholid mengatakan, jamaah yang sedang menunggu di Terminal Syib Amir langsung dibawa ke dalam kontainer dan bus. "Ada sekitar 15 orang di dalam kontainer, termasuk tiga petugas," kata dia.

Terminal Syib Amir berjarak sekitar 200 meter dari Masjidil Haram. Ini merupakan satu dari tiga terminal di sekitar Masjidil Haram, tempat jamaah Indonesia menunggu bus shalawat kembali ke pemondokan.

Hujan kali ini merupakan hujan ketujuh di Makkah sejak akhir bulan lalu. Mukimin di Arab Saudi sejak 1990, Sarman sarga Yusuf (46 tahun) mengatakan, hujan deras memang kerap terjadi ketika peralihan dari musim panas ke musim dingin. Bedanya, hujan kali ini disertai petir dan gemuruh yang kencang.

"Biasanya petir enggak sebesar ini. Tahun 1997, hujannya seperti ini," ujar pria asal Cirebon ini.

Hingga pukul 18.05, hujan di Kota Makkah mulai reda. Sementara itu, hujan di Makkah tidak mempengaruhi penerbangan di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

"Kloter JKG 31 barusan keluar dari ruang imigrasi," kata Kepala Seksi Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu Daker Bandara Jeddah-Madinah Yusuf Prasetyo.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/berita-jurnal-haji/15/09/11/nuis46346-usai-dilanda-hujan-es-makkah-terkepung-macet-dan-banjir

Kamis, 10 September 2015

Kamus Bahasa Arab Al Munawir Indonesia_Arab Terlengkap

 إِنَّا جَعَلْنَــاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُـــــونَ 
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan Al-Quran dalam bahasa Arab, supaya kalian memahaminya (QS. Az Zukhruf:3)"

Bahasa Arab (اللغة العربية al-lughah al-‘Arabīyyah, atau secara ringkas عربي ‘Arabī) adalah salah satu bahasa Semitik Tengah, yang termasuk dalam rumpun bahasa Semitik dan berkerabat dengan bahasa Ibrani dan bahasa-bahasa Neo Arami. Bahasa Arab memiliki lebih banyak penutur daripada bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Semitik. Ia dituturkan oleh lebih dari 280 juta orang sebagai bahasa pertama, yang mana sebagian besar tinggal di Timur Tengah dan Afrika Utara. Bahasa ini adalah bahasa resmi dari 25 negara, dan merupakan bahasa peribadatan dalam agama Islam karena merupakan bahasa yang dipakai oleh Al-Qur'an. Berdasarkan penyebaran geografisnya, bahasa Arab percakapan memiliki banyak variasi (dialek), beberapa dialeknya bahkan tidak dapat saling mengerti satu sama lain. Bahasa Arab modern telah diklasifikasikan sebagai satu makrobahasa dengan 27 sub-bahasa dalam ISO 639-3. Bahasa Arab Baku (kadang-kadang disebut Bahasa Arab Sastra) diajarkan secara luas di sekolah dan universitas, serta digunakan di tempat kerja, pemerintahan, dan media massa.

Bahasa Arab Baku berasal dari Bahasa Arab Klasik, satu-satunya anggota rumpun bahasa Arab Utara Kuna yang saat ini masih digunakan, sebagaimana terlihat dalam inskripsi peninggalan Arab pra-Islam yang berasal dari abad ke-4 Bahasa Arab Klasik juga telah menjadi bahasa kesusasteraan dan bahasa peribadatan Islam sejak lebih kurang abad ke-6. Abjad Arab ditulis dari kanan ke kiri.

Bahasa Arab telah memberi banyak kosakata kepada bahasa lain dari dunia Islam, sama seperti peranan Latin kepada kebanyakan bahasa Eropa. Semasa Abad Pertengahan bahasa Arab juga merupakan alat utama budaya, terutamanya dalam sains, matematik adan filsafah, yang menyebabkan banyak bahasa Eropa turut meminjam banyak kosakata dari bahasa Arab.

Harga Kamus Bahasa Arab Al Munawir Indonesia-Arab Terlengkap
Kamus bahasa arab dan artinya terbaru yang dianggap paling lengkap saat ini harga Rp 150.000 SMS ke 0813-1518-1954 
Kamus bahasa arab dan artinya terbaru yang dianggap paling lengkap saat ini. Meneruskan usaha terdahulu dengan Kamus Arab-Indonesia terlengkap yang ditulis oleh pengarang yang sama. Kali ini beliau dibantu Muhammad Fairuz dan ditashih KH. Zainal Abidin Munawwir. Seperti kamus sebelumnya masing-masing kata dimulai dari kata dasarnya kemudian diurai dengan beberapa contoh terjemahannya dalam bahasa Arab.

Baca Juga : Ini Adalah Jawaban Allah, Mengapa Ini Semua Tidak Sesuai Seperti Yang Kita Inginkan?

Bahasa Arab merupakan bahasa Al-Quran, bahasa yang di gunakan oleh Rasulullah dan para sahabatnya untuk berdialog dan menyampaikan wahyu dari Allah taala. Kosakata dalam bahasa Arab sangat banyak, sehingga tidak mungkin akan bisa menguasainya dalam waktu yang cepat. Untuk itu kehadiran kamus akan sangat membantu bagi kita untuk mengetahui arti dari tiap kata bahasa arab dan sebaliknya.

Ini adalah kamus terbaru Indonesia-Arab yang dianggap paling lengkap saat ini. Meneruskan usaha terdahulu dengan Kamus Arab-Indonesia terlengkap yang ditulis oleh pengarang yang sama. Kali ini beliau dibantu Muhammad Fairuz dan ditashih KH. Zainal Abidin Munawwir. Seperti kamus sebelumnya masing-masing kata dimulai dari kata dasarnya kemudian diurai dengan beberapa contoh terjemahannya dalam bahasa Arab.

Selasa, 08 September 2015

Ini Adalah Jawaban Allah, Mengapa Ini Semua Tidak Sesuai Seperti Yang Kita Inginkan?

Seperti judul tulisan yang tertera di atas, mengapa aku tak mendapatkan apa yang aku inginkan? Maka seperti itulah gambaran pertanyaan kebanyakan orang dalam menjalani hidupnya saat ini. Tidak heran apabila saat ini banyak orang yang merasa selalu kekurangan dalam hidupnya, merasa hidup sendiri dan tak ada yang menemani. Mereka merasa apapun yang telah mereka terima tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Jika pikiran semacam itu merasuk untuk menjadi bahan pemikiran dan kemudian bisa melecutkan diri menjadi lebih baik, tentu pikiran-pikiran itu menjadi bermanfaat, akan tetapi apabila pikiran-pikiran semacam itu manjadi sebuah penyesalan, kemarahan, bahkan keputusasaan, maka sudah barang tentu semua itu hanya akan menjadi penyakit dalam diri kita.

Belum menjadi seorang muslim sejati apabila dalam pribadinya tumbuh bibit penyakit hati. Penyakit hati bisa tumbuh dari berbagai macam bibit, salah satu bibit yang berbahaya adalah perasaan kurang yakin dan berburuk sangka kepada Allah Swt. Dengan penyakit ini, manusia akan selalu merasa bahwa Allah Swt. tidak pernah sayang kepadanya. Allah Swt.tidak mau memberi hamba-Nya nikmat dan Allah Swt. itu jahat. Ketika penyakit ini merasuk dalam diri seseorang, maka nafsu jahat dalam diri manusia sedang berpesta pora menyambut kedatangan teman baru mereka, dan ia adalah keserakahan.

Baca Juga : Inilah Tujuan Allah Menguji Manusia

Sifat serakah seringkali menjalar dalam diri tanpa bisa dideteksi dengan alat apapun selain kesucian hati. Dengan sifat serakah manusia akan tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Memang boleh apabila kita merasa tidak puas dengan apa yang kita dapatkan, terutama dalam hal ilmu dan ibadah, tetapi tidak pada nikmat Allah Swt. kita tidak boleh menghujat Allah Swt. dengan mengatakan bahwa Allah Swt. tidak pernah memberi apa yang kita inginkan, karena dengan begitu kita sebenarnya telah digiring nafsu jahat dalam diri untuk menjadi seseorang yang kufur nikmat, naudzubillah.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ (البقرة: 216)

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)

Tafsir Ayat : 216

Ayat ini mengandung hukum wajibnya berjihad di jalan Allah setelah sebelumnya kaum muslimin diperintahkan untuk meninggalkannya, karena mereka masih lemah dan tidak mampu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berhijrah ke Madinah dan jumlah kaum muslimin bertambah banyak dan kuat, Allah memerintahkan mereka untuk berperang, dan Allah mengabarkan bahwasanya peperangan itu sangatlah dibenci oleh jiwa karena mengandung keletihan, kesusahan, menghadapi hal-hal yang menakutkan dan membawa kepada kematian. Tapi sekalipun demikian berjihad itu merupakan kebaikan yang murni, karena memiliki ganjaran yang besar dan menghindarkan dari siksaan yang pedih, pertolongan atas musuh dan kemenangan dengan ghanimah dan sebagainya, yang memang menimbulkan rasa tak suka.

وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ "Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu". Hal itu seperti tidak ikut pergi berjihad demi menikmati istirahat, itu adalah suatu keburukan, karena akan mengakibatkan kehinaan, penguasaan musuh terhadap Islam dan pengikutnya, terjadinya kerendahan dan hina dina, hilangnya kesempatan mendapat pahala yang besar dan (sebaliknya) akan memperoleh hukuman.

Ayat ini adalah umum lagi luas, bahwa perbuatan-perbuatan baik yang dibenci oleh jiwa manusia karena ada kesulitan padanya itu adalah baik tanpa diragukan lagi, dan bahwa perbuatan-perbuatan buruk yang disenangi oleh jiwa manusia karena apa yang diperkirakan olehnya bahwa padanya ada keenakan dan kenikmatan ternyata buruk tanpa diragukan lagi.

Perkara dunia tidaklah bersifat umum, akan tetapi kebanyakan orang bahwa apabila ia senang terhadap suatu perkara, lalu Allah memberikan baginya sebab-sebab yang membuatnya berpaling darinya bahwa hal itu adalah suatu yang baik baginya, maka yang paling tepat baginya dalam hal itu adalah ia bersyukur kepada Allah, dan meyakini kebaikan itu ada pada apa yang terjadi, karena ia mengetahui bahwa Allah Ta’ala lebih sayang kepada hambaNya daripada dirinya sendiri, lebih kuasa memberikan kemaslahatan buat hambaNya daripada dirinya sendiri, dan lebih mengetahui kemaslahatannya daripada dirinya sendiri, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ "Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui". Maka yang pantas bagi kalian adalah kalian sejalan dengan segala takdir-takdirNya, baik yang menyenangkan ataupun yang menyusahkan kalian.

Dan tatkala perintah berperang tidak dibatasi, pastilah akan mencakup bulan-bulan haram dan selainnya, Allah Ta’ala mengecualikan peperangan pada bulan-bulan haram seraya berfirman, (ayat berikutnya –pent.)

Hadits-Hadits yang Berkaitan dengan Ayat

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan beberapa hadits ketika menafsirkan ayat tersebut diantaranya:

مَنْ مَاتَ وَلمَ ْيَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِالْغَزْوِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيِّةً
"Barang siapa meninggal dunia sedang ia tidak pernah ikut berperang dan ia juga tidak pernah berniat untuk berperang, maka ia meninggal dunia dalam keadaan jahiliyah.” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada waktu Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah):

لاَ هِجْرَةَََ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَ نِيَّةٌٌٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا
“Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah (pembukaan kota Makkah), akan tetapi yang ada yaitu hijrah untuk jihad dan untuk niat baik. Bila kalian di minta untuk maju perang, maka majulah !” (Muttafaq ‘alaih)

Imam Az-Zuhri mengatakan, “Jihad itu wajib bagi setiap individu, baik yang dalam keadaan berperang maupun yang sedang duduk (tidak ikut berperang). Orang yang sedang duduk, apabila dimintai bantuan, maka ia harus memberikan bantuan, jika diminta untuk maju berperang, maka ia harus maju perang, dan jika tidak dibutuhkan, maka hendaknya ia tetap di tempat (tidak ikut).”

Pelajaran dari Ayat:

Ayat tersebut merupakan penetapan kewajiban jihad dari Allah Ta’ala bagi kaum muslimin. Agar mereka menghentikan kejahatan musuh dari wilayah islam. Dan juga agar supaya tidak tersisa di bumi Allah ini fitnah dan perbuatan syirik.

Ketidaktahuan seseorang terhadap akibat atau balasan sebuah perbuatan ataupun ketentuan Allah, menjadikannya menyenangi perbuatan yang dibenci atau diharamkan, dan menjadikannya membenci dan menjauhi perbuatan yang sebenarnya dicintai dan diridhai Allah, walaupun terkadang bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya.

Seluruh perintah Allah adalah baik, dan seluruh larangan-laranganNya adalah buruk. Maka dari itu wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakan seluruh perintahNya dan menjauhi seluruh larangan-laranganNya.

Sebenarnya, apabila kita mampu mengkaji lebih dalam tentang semua yang diberikan Allah Swt., maka kita akan bisa merasakan betapa rahman dan rahim Allah Swt. yang begitu melimpah. Allah Swt. selalu memberi apa yang terbaik di hadapan Allah bagi makhluk-Nya. Kebanyakan manusia selalu menilik apa yang diberikan Allah Swt. dengan kacamata nafsu mereka, bukan dari hikmah yang ada dibaliknya. Dengan jelas Allah telah menjelaskan dalam surat al Baqarah ayat 216 bahwa Allah Swt. selalu memberi yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, karena hanya Allah Swt. lah yang paling mengerti tentang apa-apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Bisa jadi kita membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kita, dan bisa jadi ketika kita menyukai sesuatu, padahal ternyata ia amat buruk bagi kita.
Sebuah analogi sederhana, adalah cerita tentang seorang anak bernama Ahmad dan ibunya yang sedang menyulam kain. Sang ibu duduk di atas kursi dan Ahmad duduk di lantai samping kursi ibunya. Ketika sang ibu menyulam, Ahmad bertanya, “ibu, kenapa ibu membuat untaian benang yang begitu rumit dan tidak teratur seperti itu?” sang ibu hanya tersenyum dan terus meyelesaikan sulamannya itu. Tak berapa lama hasil sulamannya pun jadi. Ibu mengangkat dan mendudukkan Ahmad ke pangkuannya. Kemudian sang ibu berkata, “apa yang kamu lihat sekarang Ahmad? ”, dan Ahmad menjawab, “wow, indah sekali sulaman ini bu”. Ahmad takjub ketika melihat pola dari atas yang begitu rapi membentuk gambar bunga, berbeda dengan apa yang ia lihat dari bawah, rumit dan tidak beraturan. Kemudian sang ibu menjelaskan kepada anaknya bahwa apa yang ia lihat adalah perumpamaan hidup kita. Jalan hidup seringkali terasa begitu rumit dan buruk bagi kita, tapi belum tentu di mata Allah Swt. Bisa jadi apa yang kita pandang sebagai sesuatu yang berat dan menyusahkan, ternyata begitu indah di hadapan Allah Swt.

Dari cerita tersebut kita seharusnya bisa lebih memahami bahwa Allah Swt. selalu lebih mengerti apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Semua yang kita terima, entah itu nikmat ataupun musibah hanya merupakan ujian dari Allah Swt. Dalam al Quran surat Al Ankabut ayat 2 Allah Swt. menyampaikan firman yang artinya,”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?”. 

Sumber :
• Tafsir as-Sa’di, cet. Shahifa;
• Aisarut-Tafasir, syaikh al-Jaza’iri;
• dan Tafsir Ibnu Katsir, cet. Pustaka Imam Syafi’i.

Inilah Tujuan Allah Menguji Manusia


“Apa ya tujuan ku? Untuk apa sih aku hidup? Kok katanya Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang? Tapi kenapa tetep aja yang aku dapet kayaknya malah Tuhan benci aku? Mana nikmat yang Dia janjikan? Yang aku dapat hanya cobaan, ujian, dan itu saja yang sepertinya yang aku dapat dari-Nya.”

Hmm, pernah mikirin hal-hal di atas ga? Mungkin sebagian dari kita ada yang pernah, atau mungkin… sering? Jadi, apa yang kalian lakuin ketika “musibah”, “cobaan”, dan “ujian” menerpa kalian? Ngeluh? Mungkin, emm, misalnya … emosi? Atau, emm … sabar? Banyak pasti reaksi kalian ketika Trio Kutip itu menerpa. Lagian, emangnya kalian tau apa itu ujian a.k.a. musibah a.k.a. ujian?

Bentar...

Ok, jadi gini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia,

Ujian berasal dari kata “Uji”, yang artinya “percobaan untuk mengetahui mutu sesuatu”, contohnya nih: Ujian Nasional, Ujian yang tingkatannya Nasional, percobaan untuk mengetahui, apakah sudah benar guru-guru kalian ngajarin kalian? Nah, kejawab di UN, siapa yang gurunya bener, siapa yang gurunya udah bener tapi kaliannya yang ga bener #nyimak mereka, ckck.

Baca Juga : Pengertian BIG-BANG dan BIG-BANG Menurut Al-Qur'an


Coba-an, cobaan. Dari kata “Coba” yang artinya “silakan; sudilah; tolong (untuk menghaluskan suruhan atau ajakan)”, tapi kalo di imbuhi –an, maka…artinya…adalah…“sesuatu yg dipakai untuk menguji (ketabahan, iman, dsb)” nah to the loh, nah loh. Seberapa kuat iman kalian? Di “coba” sama Allah.

Kalo musibah, hmm. Bentar. “kejadian (peristiwa) menyedihkan yg menimpa.” Tuh, menurut KBBI Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tapi apakah selalu sesuatu yang menyedihkan? Mungkin, bisa jadi. Coba kalo kita tilik dari bahasa arab.
Dalam bahasa arab bisa dimaknai dengan “Fitnah”, dan “Ibtilaa’”. Maksudnya apa?

Bentar....

“Fitnah”, berasal dari kata bahasa Arab fa-ta-na yang berarti imtihaan, ikhtiyaar, ibtilaa’, yang artinya ujian. Kalimat fatanu adz-dzahaab berarti membakar emas untuk memurnikannya, artinya emas perlu dibakar (diuji) dulu sampai ketahuan kualitasnya.

Sama juga dengan, kalau misalnya baju putih kotor, kita cuci, nah dikucek-kucek kan. Sama, dengan ujian terhadap manusia. Bedanya, kalau untuk manusia, lebih ke untuk mengetahui kualitasnya, dan juga sebagai penghapus dosa selama di dunia.

Oh ya?

Bentar! Kenapa kita diuji?

Allah pasti ngetes, benerkah kita beriman kepada-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui dari apa yang telah Ia uji, seberapa “Iman” mereka yang berkata “Aku beriman kepada Allah” sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ankabut 21: 2-3 yang artinya:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Tapi bener gak sih? Bener gak ujian tanda Allah mencintai kita? Ujian itu penghapus dosa?

Dalam hadist,

Dan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari No. 5641)
Masih mikir? Ok, dikasih analogi deh. Jadi gini.

Dalam permainan, tingkat kesusahan setiap level itu tergantung seberapa tinggi level itu kan? Misalnya nih, level 1 “Wah gampang banget.” Tapi makin naik levelnya, pasti makin susah. Dari Candy Crush Saga aja, makin naik level makin susah kan? Atau kalau kalian gamers, pemain RPG, tiap-tiap tempat pasti ada Quest, ya kan? Nah, quest itu kita ibaratkan sebagai ujian, dan liat reward dari quest itu, meuh, keren beudh pake dh kan?

Belum percaya? Kalau ujian itu baik? Ada bukti lagi nih.

Dari Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani)

Tapi, sebenernya, apa sih yang ngebedain ujian, sama azab?

Kalau diambil dari hadits-hadits tadi, maka dapat disimpulkan, bahwa Allah menguji hamba-Nya yang Ia cintai. Diantara yang termasuk ke dalam ujian yaitu:
1. Pelbagai kesulitan dan kepelikan

QS. Al-Baqarah 2: 155 yang artinya:
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar.

Disitu disebutin, bahwa banyaknya cobaan yang ada.
2. Keburukan juga Kebaikan

QS. Al-Anbiya 21: 35 yang artinya:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.

Disebutin tuh, salah dua dari ujian termasuknya kebaikan dan keburukan. :O
3. Ornamen dan Hiasan di Muka Bumi

Qs. Al-Kahf 18: 7 yang artinya:

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

Maksudnya, sesuatu-sesuatu yang ada di bumi ini juga menjadi sebagian dari ujian.

Trus untuk azab? Terjelaskan dalam banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an bahwasanya mereka yang Allah azab adalah orang-orang kafir, munafik, misalnya nih,

QS. Ali Imran 3: 177 yang artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih.

QS. At-Taubah 9: 68 yang artinya:

Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.

Kejawab gak tuh, bedanya azab sama ujian? Kejawab kan? Alhamdulillah :) eh? Masih ada pertanyaan?
Kalau gitu, cara menyikapi ujian, kita harus ngapain?

5 dan 6 Huruf.

S. A. B. A. R. Sabar dan, S. Y. U. K. U. R. Syukur.

Maksudnya?

Tunggu sebentar, biarkan Allah menjawab via Al-Qur’an dan Rasul-Nya via As-Sunnah :)

Suhaib mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)"

Orang yang sabar gimana? Kejawab juga di QS. Al-Baqarah 2: 155-157 yang artinya:

““Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. Al-Baqarah: 155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al-Baqarah: 156) Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 157)

Jangan juga putus asa, ketika Allah menguji kita dengan sesuatu yang tidak bisa kita pikul, atau misalnya kesendirian, ingat firman Allah, pada QS. Al-Baqarah 2: 286 yang sebagian artinya ialah,

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa):”Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.

Juga firman Allah yang dikutip dari arti QS. At-Taubah 9: 40 yang artinya :

“”Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (9: 40)””

Ada juga hadits, jadi Rasulullah pun meminta perlindungan dari kelemahan, kemalasan, pengecut, kekikiran dan kepikunan, siksa kubur, fitnah kehidupan dan kematian.
Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam selalu mengucapkan:  اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, pengecut, kekikiran dan kepikunan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari no 6367)

Dan masih banyak lagi...

Jadi, liat? Ujian itu, bukan azab, bukan berarti Allah benci kita, bukan. Kalau kita memang masih beriman, Allah akan menguji keimanan kita, lewat ujian. Jangan jadi orang yang menghindar dari kesalahan, itu bukanlah sabar, melainkan pengecut. Jangan juga menghindar dari sesuatu yang kita tidak mampu laksanakan, bukankah Allah tidak akan menguji hamba-Nya dengan sesuatu yang hamba-Nya tidak dapat pikul?

Sumber : Google

Senin, 07 September 2015

Pengertian BIG-BANG dan BIG-BANG Menurut Al-Qur'an

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS Al-Anbiya [21]:30) Menurut Harun Yahya, kata “ratq” yang diterjemahkan sebagai “suatu yang padu” digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan.

Ungkapan “Kami pisahkan antara keduanya” adalah terjemahan kata Arab “fataqa”, dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari “ratq”. Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini. Peristiwa Big Bang, kata Harun Yahya, mengungkapkan bahwa Allah telah menciptakan jagat raya dari ketiadaan. Big Bang adalah teori yang telah dibuktikan secara ilmiah.

TEORI KEJADIAN ALAM SEMESTA
Para  ahli  astronomi  telah  lama  berusaha  merumuskan  berbagai  teori  yang  dapat menjelaskan  tentang  kejadian  alam  semesta.  Salah  satu  teorinya  disebut  teori  dentuman dahsyat  (big  bang).  Teori  ini  pertama  kali  dikemukakan  oleh  kosmolog  Abbe  Lemaitre  pada tahun 1920-an. Menurutnya alam semesta ini bermula dari gumpalan super-atom raksasa yang isinya tidak bisa kita bayangkan tetapi kira-kira seperti bola api raksasa yang suhunya antara 10 milyar sampai 1 trilyun derajat celcius (air mendidih suhunya hanya 100 oC).

Gumpalan super-atom tersebut meledak sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Hasil sisa dentuman dahsyat tersebut menyebar  menjadi  debu  dan  awan  hidrogen.  Setelah  berumur  ratusan  juta  tahun,  debu  dan  awan hidrogen tersebut membentuk bintang-bintang dalam ukuran yang berbeda-beda. 
Seiring dengan terbentunya bintang-bintang, di antara bintang-bintang tersebut berpusat membentuk kelompoknya masing-masing yang kemudian kita sebut galaksi.
Teori big bang merupakan teori mutakhir tentang penciptaan alam semesta. Sebelumnya telah berlaku   berbagai   teori   kejadian   alam   semesta   dengan   sejumlah   pendukung   dan penentangnya.  Seperti  Teori  Keadaan  Tetap  (Steady  State  Theory)  yang  diusulkan  pada  tahun 1948  oleh  H.  Bondi,  T.  Gold,  dan  F.  Hoyle  dari  Universitas  Cambridge  (Tjasyono,  2006;  51). Menurut  teori  ini,  alam  semesta  tidak  ada  awalnya  dan  tidak  akan  berakhir.  Dalam  teori keadaan tetap tidak ada asumsi bola api kosmik yang besar dan pernah meledak. 

Alam semesta akan  datang  silih  berganti  berbentuk  atom-atom  hidrogen  dalam  ruang  angkasa,  membentuk galaksi baru dan menggantikan galaksi lama yang bergerak menjauhi kita dalam ekspansinya. Teori  lainnya  yang  cukup  akomodatif  dari  kedua  teori  di  atas  adalah  teori  osilasi.

Keyakinan tentang kejadian alam semesta sama dengan Teori Keadaan Tetap yaitu bahwa alam semesta  tidak  awal  dan  tidak  akan  berakhir.  Tetapi  model  osilasi  mengakui  adanya  dentuman besar  dan  nanti  pada  suatu  saat  gravitasi  menyedot  kembali  efek  ekspansi  ini  sehingga  alam semesta  akan  mengempis  (collapse)  yang  pada  akhirnya  akan  menggumpal  kembali  dalam kepadatan  yang  tinggi  dengan  temperatur  yang  tinggi  dan  akan  terjadi  dentuman  besar
kembali. 


Setelah big-bang kedua kali terjadi, dimulai kembali ekspansi kedua dan suatu saat akan mengempis kembali dan meledak untuk ketiga kalinya dan seterusnya. Di  tempat  lain  para  ilmuwan  sibuk  mengusulkan  teori  lain  tentang  terciptanya  tata surya. Bagi para ilmuwan, formasi tata surya sangat menarik karena keteraturan planet-planet mengelilingi matahari. Bersamaan dengan itu, satelit planet juga mengitari planet induknya. Adalah  Izaac  Newton  (1642-1727)  yang  memberi  dasar  teori  mengenai  asal  mula  Tata Surya.  Ia  menyusun  Hukum  Gerak  Newton  atau  Hukum  Gravitasi  yang  membuktikan  bahwa gaya antara dua benda sebanding dengan massa masing-masing objek dan berbanding terbalik dengan  kuadrat  jarak  antara  kedua  benda.  Teori  Newton  menjadi  dasar  bagi  berbagai  teori pembentukan   Tata   Surya   yang   lahir   kemudian,   sampai   dengan   tahun   1960   termasuk Fase ledakan (big bang) Fase penyusutan
1.7: Teori Osilasi didalamnya teori monistik dan teori dualistik. Teori monistik menyatakan bahwa matahari danplanet berasal dari materi yang sama. Sedangkan teori dualistik menyatakan matahari dan bumi berasal dari sumber materi yang berbeda dan terbetuk pada waktu yang berbeda.

Tahun 1745, George Comte de Buffon (1701-1788) dari Perancis mempostulatkan teori
dualistik  dan katastrofiyang  menyatakan  bahwa  tabrakan  komet  dengan  permukaan  mataharimenyebabkan  materi  matahari terlontar  dan  membentuk  planet  pada  jarak  yang  berbeda. Kelemahan   dari   teori   Buffon   tidak   bisa   menjelaskan   asal   datangnya   komet.   Ia   hanya mengasumsikan bahwa komet jauh lebih masif dari kenyataannya.

Filsuf  Perancis,  Rene  Descartes  (1596-1650)  mempercayai  bahwa  ruang  angkasa  terisi oleh fluida alam  semesta  dan  planet-planet  terbentuk  dalam  pusaran  air.  Teori  ini  tidak didukung  oleh  dasar  ilmiah  yang  kuat  sehingga  banyak  yang  menolaknya.  Namun  demikian,nampaknya menjadi inspirasi bagi Immanuel Kant (1724-1804) bahwa ada kemungkinan bahwa alam semesta itu berasal dari sesuatu “lembut” dan lebih lebit dari fluida yaitu adanya awan gas yang berkontraksi dibawah pengaruh gravitasi sehingga awan tersebut menjadi pipih.

Gagasan Kant didasarkan dari Teori Pusaran Descartes yang merubah asumsi dari fluida menjadi gas.
Setelah adanya teleskop, William Herschel (1738-1822) mengamati adanya nebula yang awalnya dianggap  sebagai  kumpulan  gas  yang  gagal  menjadi  bintang.  Tahun  1791,  ia  melihat bintang  tunggal  yang  dikelilingi  oleh  hallo  yang  terang.  Asumsi  inilah  yang  kemudian berkembang  dan  menaik  kesimpulan  sementara  bahwa  bintang  itu  terbentuk  dari  nebula  dan hallo merupakan sisa dari nebula.

Teori nabula semakin mantap setelah Pierre Laplace (1749-1827) menyatakan awan gas dan  debu  yang  berputar  secara  perlahan  akan  menjadi  padu  akibat  gravitasi.  Pada  saat  padu,momentum   sudut   dipertahankan   melalui   putaran   yang dipercepat   sehingga   terjadilah
pemipihan. Selama dalam kontraksi, materi di pusat pusaran menjadi matahri dan materi yangterlepas  dan  memisahkan  diri  dari  piring  pusaran  membentuk  sejumlah  cincin.  Material  di
sekitar cincin juga membentuk pusaran yang lebih kecil dan terciptalah planet-planet.

Teori  Laplace  ditentang  oleh  Clerk  Maxwell  (1831-1879).  Menurut  Maxwell  teori cincin  hanya  bisa  stabil  jika  terdiri  dari partikel-partikel  padat.  Jika  bahannya  dari  gas  sepertipendapat  Laplace  maka  tidak  akan  terbentuk  planet.  Menurut  Maxwell  cincin  tidak bisa berkondensasi menjadi planet karena gaya inersianya akan memisahkan bagian dalam dan luar cincin.

Seandainya  proses  pemisahan  bisa  terlewati,  massa  cincin  masih  jauh  lebih  masif dibanding massa planet yang terbentuk. Thomas C. Chamberlin (1843-1928) ahli geologi dan Forest R. Moulton (1872–1952) seorang  ahli  astronomi  mengajukan  teori  lain  yaitu  Teori  Planetesimal.

Menurut  teori  ini, matahari  telah  ada  sebagai  salah  satu  dari  bintang-bintang  yang  banyak.  Pada  suatu  masa, entah  kapan,  ada  sebuah  bintang  berpapasan  pada  jarak  yang  tidak  jauh.  Akibatnya,  terjadilah peristiwa  pasang  naik  pada  permukaan  matahari.  Sebagian  dari  masa  matahari  itu  tertarik  ke arah bintang lewat. Material yang tertarik ada yang kembali ke matahari dan sebagian lainnya terlepas dan menjadi planet-planet.

Teori lain yang mirip dengan teori Chamberlin dan Moulton adalah teori pasang surut yang  dikemukakan  oleh  Sir  James  Jeans  (1877–1946)  dan  Harold  Jeffreys  (1891)  yang keduanya  berkebangsaan  Inggris.  Peristiwa  pasang  surutnya digambarkan  oleh  Jeans  dan Jeffreys adalah seperti cerutu. Artinya ketika bintang lewat mendekati matahari, pada waktu itu masa  matahari  tertarik  dengan  bentuk  menjulur  keluar  seperti  cerutu.

Setelah  jauh,  cerutu tersebut menetes dan tetesannya membentuk planet-planet. Teori   lainnya   adalah   dari   Carl   von   Weizsaeker   seorang   ahli   astronomi   Jerman. Teorinya dikenal dengan nama Teori Awan Debu (The Dust-Cloud Theory).

Gagasannya adalah
bahwa  tata  surya  awalnya  terbentuk  dari  gumpalan  awan  gas  dan  debu.  Awan  gas  dan  debu mengalami proses pemampatan membentuk bola dan mulai berpilin. Lama-kelamaan gumpalan gas itu  memipih  menyerupai  bentuk  cakram  yaitu  bulat  dan  pipih  yang  dibagian  tengahnya tebal sedangkan di bagian tepiannya sangat tipis. Bagian tengah memilin lebih lambat daripada bagian  tepiannya.  Partikel  dibagian  tengah  saling  menekan  sehingga  menimbulkan  panas  dan menyala  yang  kemudian  menjadi  matahari.  Sedangkan  bagian  luar  berpusing  sangat  cepat sehingga banyak yang terlempar dan menjadi gumpalan gas dan kumpulan debu padat. Bagian yang kecil-kecil itu kemudian menjadi planet-planet.

Sebagian  ahli  juga  percaya  bahwa  ketika  matahari  mulai  memijar,  angin  matahari berhembus   sangat   kencang   sehingga   menerpa   gumpalan-gumpalan   debu   calon   planet. Merkurius,  Venus,  Bumi,  dan  Mars  terkena  dampak  langsung  sehingga  debu  calon  planetsebagian  terhempas  dan  “telanjanglah”  planet-planet  tersebut.  Sementara  Jupiter,  Saturnus, Uranus, dan Neptunus masih tetap seperti planet “debu” sehingga bentuknya masih berukuranraksasa.  Dengan  landasan  pada  asumsi  dan  teori  ini,  maka  sangat  aneh  adanya  planet  pluto yang  berwujud  terestrial  (padat).  Pertanyaan  inilah  yang  belum  dapat  dijawab  dan  untuk sementara “ditunda” statusnya sebagai planet. Adapun bulan atau satelit padat di sekitar planet-planet debu berukuran besar itu karena lebih dulu memadat yang kemudian bergerak mengitari
planet induknya.

Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, papar Harun Yahya, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20. Maha Benar Allah SWT dengan Segala FirmanNya.

Reff : Materi Bumi dan Alam Semesta | Teori Terjadinya Alam Semesta

Minggu, 06 September 2015

Setetes Air Hina Inilah Awal Mula Manusia....

Tanda Kekuasaan Allah Pada Penciptaan Manusia.. SUBHAANALLOOH!!!
Tanda Kekuasaan Allah Pada Penciptaan Manusia


وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah [01]. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani [02] (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah [03], lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging [04], dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang [05], lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging [06]. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain [07]. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”. [QS. al-Mukminun (23):12-14]

Proses Setetes Air Mani

Cobalah lihat setetes mani itu dengan pandangan bashirah. Mani adalah setetes air yang hina, lemah dan kotor. Bila dibiarkan sebentar saja, niscaya akan rusak dan bau.

Coba perhatikan, bagaimana Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa mengeluarkannya dari tempat yang terletak diantara tulang sulbi dan tulang dada.

Air mani tersebut berjalan -dengan kudrat-Nya- mengikuti kehendak-Nya dengan penuh ketundukan. Kendati jalur yang dilalui sangatlah sempit dan cabang-cabang yang dilewati sangatlah banyak, namun ia tetap berjalan menuju tempat bermukim dan berkumpul.

Baca Juga : Al-Qur'an Telah Menjelaskan Asal-Usul Kelamin Manusia, Percaya? 

Coba lihat bagaimana Allah memadukan antara lelaki dan perempuan dan menanamkan raca cinta diantara keduanya. Lalu Allah mengikatnya dengan mata rantai syahwat, cinta dan hubungan badan yang merupakan sebab terciptanya seorang anak manusia. Cobalah renungkan bagaimana Allah mentakdirkan pertemuan anatara dua jenis cairan (mani laki-laki dan mani perempuan), padahal sebelumnya keduanya sangat berjauhan. Allah menggiringnya dari urat yang paling dalam, lalu mempertemukannya di satu tempat yang kokoh, suatu tempat yang tidak ada udara yang dapat merusaknya, tidak pula hawa dingin yang akan membuatnya beku dan tidak ada sesuatu yang mengganggunya dan tidak ada pula perusak yang menjamahnya.
Kemudian Allah merubah setetes air mani yang putih bersih itu menjadi segumpal darah yang berwarna merah kehitam-hitaman. Kemudian merubahnya menjadi sekerat daging yang berbeda dengan segumpal darah tadi, baik warna, hakikat maupun bentuknya. Kemudian Allah menjadikan baginya tulang-belulang yang masih polos, belum terbungkus, yang berbeda dengan sekerat daging tadi, baik bentuk, keadaan, kadar, sensitifitas dan warnanya.

Lalu coba perhatikan pula bagaimana Allah memilah-milih bagian-bagian yang nyaris sama itu menjadi urat-urat syaraf, tulang-belulang, otot-otot, tulang-tulang rawan, cairan-cairan serta alat-alat tubuh yang sangat lunak dan lain-lainnya…

Kemudian mengikat alat tubuh yang satu dengan yang lainnya dengan pengikat yang sangat kokoh dan kuat, pengikat yang tidak mudah terurai. Lalu perhatikan bagaiman Allah membungkusnya dengan daging, menyusunnya sedemikian rupa, lalu menjadikannya sebagai pembalut dan pelindung tubuh.

Renungan

Kemudian al-Imam Ibnul Qayyim melanjutkan pembicaraannya tentang setetes air mani ini :
Sekarang coba lihat setetes air mani itu, perhatikanlah dengan seksama bentuk awalnya, kemudian bentuknya setelah melalui proses. Sungguh, sekiranya jin dan manusia berkumpul untuk menciptakan pendengaran, penglihatan, akal, kemampuan, ilmu, ruh atau satu tulang saja -yakni tulang yang sangat kecil-, atau satu urat saja yang sangat halus atau sehelai rambut saja, niscaya mereka tidak akan mampu menciptakannya. Itu semua merupakan tanda-tanda ciptaaan Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan rapi, menciptakan manusia dari setetes mani yang hina.

al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
Allah subhanahu wata’aala menganjurkan agar kita merenungi penciptaan manusia pada beberapa ayat dalam kitab-Nya. Allah berfirman :
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِق

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? [QS. ath-Thariq (86):5]

Allah juga berfirman :
وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُون

dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan [QS. adz-Dzariyat (51):21]

Allah juga berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

Hai manusia, kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur); maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari seumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) diantara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupunyang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah [QS. al-Hajj (22):5]

Allah juga berfirman :
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى (36) أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى (37) ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى (38) فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى (39) أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban). Bukankah dia dahulu dari setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? [QS. al-Qiyamah (75):36-40]

Allah juga berfirman :
أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (20) فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (21) إِلَى قَدَرٍ مَعْلُومٍ (22) فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ

Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina, kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. [QS. al-Mursalat (77):20-23]

Allah juga berfirman :
أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِين

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! [QS. Yasin (36):77]

Banyak ayat di dalam al-Qur’an yang mengajak manusia unuk melihat dan berfikir tentang asal-muasal penciptaan dirinya, perjalanan hidupnya dan kesudahannya. Sebab, diri dan tubuhnya merupakan tanda yang paling besar yang menunjukkan keagungan Penciptanya. Sesuatu yang paling dekat kepada manusia adalah dirinya sendiri. Dalam dirinya itu terdapat keajaiban-keajaiban yang menunjukkan ke-Maha Agung-an Allah yang tidak akan putus-putusnya bila diamati sebagiannya saja. Sementara manusia melalaikannya dan tidak mau memikirkannya. Andaikata ia mau berfikir sejenak saja tentang dirinya dan melihat keajaiban ciptaan Allah pada dirinya, niscaya dia akan mengutuk dirinya yang kafir dan menentang Allah.

Allah subhanahu wata’aala berfirman :
قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ (17) مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (18) مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (19) ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (20) ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (21) ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ

Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. [QS. ‘Abasa (80):17-22]

Allah berulang kali mengetuk telinga dan akal pikiran kita dengan penyebutan hal tersebut agar kita mendengar kata setetes mani, segumpal darah, sekerat daging dan tanah, bukanlah untuk kita ucapkan begitu saja, dan bukan pula sekedar memberitakan hal tersebut, namun tujuannya untuk sebuah hikmah di balik itu semua. Itulah yang menjadi tujuan penyebutannya dan itulah yang akan kita bicarakan.”

(Sumber : Keajaiban-keajaiban Makhluk dalam Pandangan al-Imam Ibnul Qayyim, Pustaka Darul Haq)